Jumat, 12 Juni 2009
Jumat, 05 Juni 2009
MENCOBA
MENCOBA
Pagi membangunkanku dari tidur lelapku. Kupun bersiap tuk pergi bersekolah. Kulewati lorong sekolah tuk menuju kelasku.
“Hai Vanil!” Serenapun menyapaku, namun ku tak mendengarnya.
“Iya, ada apa?” Arill bermaksud menjawab sapaan Serena, Namun ia keliru tuk kali ini.
“Cieee,,,” Ejekan keluar dari mulut teman satu genk dari Arill “HAPPY FRIENDS”. Genk “HAPPY FRIENDS” memang berisi anak anak yang tukang gossip. Maka semenjak itulah Arill digossipkan kalau Arill suka sama Vanil.
Hari pun tlah berganti. Kupun datang kembali ke tempat menuntut ilmu. Tiba-tiba Serena bicara kepadaku dengan menunjukkan wajah yang memang sangat serius.
“Vanny, kamu tau ngak? Sebenarnya Arill tuh suka sama kamu! Kamu emangnya ngak nyadar ya?” Serena berbicara dengan menunjukkan sikap yang menginginkan ku tuk percaya.
“Masa sih? Ngacok aja kamu... Dya kan banyak banget fansnya... Masa dya bisa suka sama aku sih? Mustahil aja tau” kupun mencoba mengelaknya.
Bellpun terdengar di telingaku. Kupun masuk ke dalam kelas. Waktu terus bejalan. Dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam. Bell istirahatpun tiba. Anak-anak HAPPY FRIENDS datang menghampiriku. Namun kali ini mereka datang tanpa kehadiran Arill.
“Shinva, Arill suka tau sama kamu... kamu mau ngak jadi pacarnya Arill? Ntar aku comblangin dech!” Farrelpun bicara kepadaku sebagai perwakilan dari HAPPY FRIENDS. Kupun hanya tersenyum malu tak sanggup tuk berbicara apapun karna ge’er.
Waktu terus berlalu. Bulanpun muncul tuk mengantikan matahari. Ketika ku ingin terlelap. Kupun berfikir tentang Arill.
“Pokoknya mulai sekarang aku akan mencoba mencintai Arill. Akupun tak ingin menyianyiakan cintanya Arill” kupun berjanji pada diriku sendiri.
Semenjak itulah ku selalu berfikir tentang Arill di manapun ku berada. Dan ku tlah sadar bahwa aku mencintai Arill. Dan sangat mencintainya.
* * *
Seketika Serena menghampiriku dengan wajah yang terkejut. Serenapun menjelaskan bahwa ia baru mengintrogasi Arill apakah ia benar-benar cinta kepada Vanny atau tidak. Tetapi sayangnya hasil dari introgasi Serena menunjukkan kalau sebenarnya Arill tidak sama sekali mencintai Vanny.
Hatiku hancur berkeping-keping bagai debu. Entah rasa sakit ini akan terus menghantuiku hingga kapan. Ku kecewa, ku marah, ku kesal, ku benci, semuanya menjadi satu dalam hatiku.
Hari-haripun berganti. Dari malam berganti pagi, dari pagi berganti malam. Entah, mengapa perasaan itu masih terus mnghantuiku. Entah dapatkah kudapat melupakannya di dalam otakku. Mataku sudah buta, tak dapat melihat wajah yang rupawan lain, selain Arill. Hatiku sudah mati, tak dapat merasa kerinduan yang dalam, selain rinduku pada Arill. Tak pernah ku bayangkan cerita cintaku berakhir seperti ini. Di hati kecil ku berharap Arill masih bagian dari cerita cintaku. Dan memang ku akui, ku tak bisa melupakan Arill hingga kapanpun.
* * *
Azka menghampiriku dengan niat agar aku bisa mengajarinya dalam pelajaran IPA karna sudah tidak ada yang ingin lagi tuk mengajarinya dalam pelajaran tersebut. Azka memang sangat merasa kesulitan dalam pelajaran tersebut. Kupun menjelaskan secara mendetail supaya Azka bisa memahaminya. Kupun tak membawa rasa tegang dalam mengajari Azka. Ku bercanda ria bersamanya agar ia mudah menyerap apa yang kuajarkan. Seketika telingaku mendengar suara pecahan gelas yang terjatuh. Ternyata gelas tersebut berasal dari Arill. Otakku berfikir apakah ia cemburu padaku?
Bukannya ku ge’er. Tapi hanya itu yang terfikirkan dalam otakku. Kupun mencoba melakukan hal yang bisa membuat Arill cemburu jika Arill benar-benar mencintaiku. Tapi ternyata trick yang kulakukan menghasilkan kesimpulan bahwa Arill benar-benar mencintaiku. Ku mencoba berbicara kepada HAPPY FRIENDS tuk membantuku dalam menyelidiki apakah Arill benar-benar mencintaiku. Kuceritakan seluruhnya secara mendetail dari A-Z.
Beberapa waktu setelah Arill diceritakan oleh HAPPY FRIENDS diapun datang menghampiriku. Dengan hati gembira ku dengarkan ia berbicara. Terucap kata cinta dari mulutnya, hatiku terkejut tak terkira, hatikupun berbunga-bunga. Namun sayang setelah ku sadari kita memang berbada keyakinan. Aku adalah seorang Muslim, Arill adalah seorang Katholik. Dengan berat hati ku katakan kita memang berbeda. Dan perbedaan itupun sangat membuatku merasa terganggu. Tapi, Arill memang keras kepala seperti dulu. Sifatnya memang tidak berubah. Ia tetap ingin memersatukan perasaan kita dengan sangat erat. Iapun memutuskan untuk menjadi seorang Muslim. Walaupun ia tau memang tak mudah baginya tuk menjadi sorang Muslim karna ia terlahir dari darah orang-orang penting agama Katholik.
* * *
Hari-haripun tlah berlalu. Berminggu-minggu tlah terlewati. Berbulan-bulan tlah dijalani. 4 tahunpun berlalu. Tak ada tanda bahwa orang tua Arill memberikan izin untuk Arill menjadi seorang Muslim.
Hingga pada saatnya Arill memberikan 2 keputusan kepada orang tuanya. Dan mereka harus memilih 1 diantara 2 keputusan tersebut.
- Arill akan tetap menjadi seorang Katholik namun ia akan pergi meninggalkan keluarganya ke negeri yang sangat jauh sehingga keluargapun tak bisa mengotak-atik kehidupan Arill.
- Arill tidak akan pergi meninggalkan keluarganya. Namun Arill akan masuk Muslim.
Orang tua Arill pun mengambil keputusan yang kedua karna mereka tidak ingin melihat anak satu-satunya pergi meninggalkan mereka.
Kini Arill dan Vanil tlah menyatu. Apakah ada yang bisa lagi memisahkan mereka?
karya : Assa Kesthy Rohana
Langganan:
Postingan (Atom)

